Headline News

Imunitas UU MD3 Bentuk Kemunduran Demokrasi yang Nyata

JAKARTA, REQNews-  Kemunduran demokrasi sudah nyata terlihat, mengingat  Rancangan UU 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD (MD3) resmi disahkan menjadi undang-undang, Senin (12/2/2018) malam. Terdapat 13 poin materi dalam RUU MD3 yang di antaranya membahas soal penambahan kursi pimpinan MPR, DPR, dan DPD hingga penguatan hak imunitas bagi anggota DPR.

Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang menilai, proses pembahasan RUU MD3 ini terkesan tertutup. Tak heran muncul sejumlah revisi pasal yang dianggap hanya menguntungkan para anggota dewan.

Revisi pasal itu dinilai berpotensi menimbulkan ancaman pidana bagi siapa pun pihak yang mengkritik DPR maupun anggotanya. Padahal, kata Sebastian, MKD bukan lembaga penegak hukum yang berwenang mengatur pihak luar anggota dewan.

Salah satu  pasal yang menjadi sorotan adalah pasal 245 yang mengatur bahwa pemanggilan anggota DPR terkait tindak pidana harus mendapatkan persetujuan tertulis dari presiden. Menurut Sebastian, revisi pasal ini sengaja dibuat sebagai upaya menghindari panggilan dari aparat penegak hukum.

Sebastian menilai, sejak lama DPR berupaya agar tidak bisa dipanggil begitu saja, misalnya oleh KPK, maka buatlah ketentuan-ketentuan melalui pasal tentang imunitas itu.

Pasal ini jelas mengindikasikan strategi DPR dalam melangkah di masa mendatang. Dengan bermodal pasal itu, ke depannya DPR memainkan strategi defensif ketika berhadapan dengan hukum, tapi begitu ofensif saat memanggil paksa seseorang.

Pasal 245 juga dikhawatirkan menjadi ‘tameng’ untuk melindungi perilaku koruptif dan penyalahgunaan kewenangan yang tak sehat dari para anggota DPR agar terhindar dari proses hukum.

Revisi pasal itu, menurutnya, justru semakin menunjukkan DPR sebagai lembaga yang antikritik. Padahal era demokrasi seharusnya mengedepankan keterbukaan pada kritik kinerja lembaga-lembaga negara.

“Tidak heran kalau DPR dinilai sebagai lembaga anti-kritik dan anti-demokrasi,” tuturnya.

Please follow and like us:
24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *