Headline News

Hakim Tolak Cabut Kasus Dua Wartawan Reuters

JAKARTA, REQNews– Hakim Myanmar menolak permohonan Wa Lone dan Kyaw Soe Oo untuk mencabut  kasus memiliki dokumen rahasia pemerintah, Rabu (11/4/2018). Kedua wartawan Reuters ini ditahan saat sedang menyusun laporan tentang pembunuhan terhadap 10 warga sipil Rohingya di Desa Inn Din, Maungdaw, Rakhine.

Lone dan Soe Oo dijerat pasal 3.1 Undang-Undang Rahasia Negara yang telah berlaku sejak 1923, Pasal tersebut berisikan tuntutan terhadap pelanggaran memasuki tempat-tempat yang dilarang, mengambil gambar atau dokumen resmi rahasia yang mungkin atau memang dimaksudkan, secara langsung atau tidak langsung, berguna bagi musuh. Dengan ancaman hukuman kurungan selama 14 tahun.

Hakim Ye Lwin yang menolak pembebasan kedua wartawan menyatakan ada alasan atas tuduhan terhadap kedua wartawan dan karena itu mereka tidak boleh dibebaskan karena dia ingin mendengar kesaksian delapan dari 25 saksi yang rencananya dihadirkan.

Sidang pemeriksaan dipenuhi para diplomat dari Prancis, Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Beberapa wartawan lokal dan internasional membawakan kue ulang tahun bagi Wa Lone, yang meniupnya saat keluar dari ruang sidang.

Sebelumnya diberitakan,polisi menangkap Wa Lone dan Kyaw Soe Oo pada 12 Desember di pinggiran Kota Yangon, tak lama setelah keduanya makan malam dengan dua polisi, yang memberikan dokumen soal kekerasan yang menyebabkan 700 ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus 2017.

Saat ditangkap kedua wartawan sedang mengerjakan tulisan tentang pembunuhan brutal terhadap 10 warga sipil Rohingya di Desa Inn Din, Kota Maungdaw, Rakhine, Myanmar. Kantor berita Reuters telah mempublikaskan laporan terkait pembunuhan tersebut.

Pada Selasa (10/4/2018) lalu, tujuh tentara yang terlibat dalam pembunuhan 10 warga sipil Rohingya itu diganjar hukuman 10 tahun penjara dan kerja paksa.

“Pelaku pembantaian telah divonis 10 tahun penjara. Tetapi yang melakukannya dituduh di bawah undang-undang yang bisa membuat kami dipenjara 14 tahun,” teriak Wa Lone kepada wartawan di tangga pengadilan, sebelum didorong masuk ke dalam truk bak terbuka oleh polisi.

Dalam pembelaan, pengacara mengatakan dokumen itu berisi informasi umum dan tidak bisa dianggap sebagai rahasia. Sidang pemeriksaan terhadap kedua wartawan Reuters yang ditahan aparat Myanmar itu bakal digelar 20 April mendatang.

Penangkapan kedua wartawan ini mendapat sorotan dunia. Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, serta Sekjen PBB juga telah mendesak Myanmar membebaskan kedua wartawan.

Kelompok hak asasi manusia Amnesty International turut menyerukan agar kedua wartawan dibebaskan sebagai penghormatan terhadap kebebasan berekspresi. (Ran)

Please follow and like us:
24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *