Budaya Headline

Harmonisasi Bangunan Cagar Budaya

JAKARTA, REQNews-Kelangkaan arsip dan dokumentasi untuk penelusuran bangunan sebagai cagar budaya sulit dilakukan, berbagai penyebab, mungkin, terjadi dari akibat penyimpanan yang tidak dilakukan. Kesulitan ini menjadikan bangunan sebagai cagar budaya sulit untuk dikembangkan menjadi bangunan yang mempunyai ciri khas sesuai dengan muatan nilai cagar budaya.

Melalui adaptasi sesuai Undang-undang Republik Indonesia No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya pada pasal 83. Bangunan dapat dikembangkan menjadi cagar budaya dengan memenuhi persyaratan yang ditentukan undang-undang.

Menurut Wiendu Nuryanti, pemanfaatan pasal adaptasi cukup untuk mengembangkan bangunan cagar budaya yang sebelumnya ruang privat menjadi ruang public. Tetapi membutuhkan kajian arsitektural untuk menelaah nilai bangunan, fungsi bangunan hingga struktur bangunan yang dikehendaki. Oleh sebab hal ini berhubungan dengan wilayah publik.

Hal itu diungkapkan dalam seminar Penguatan Konstruksi Pada Bangunan Cagar Budaya sebagai Museum, studi kasus: Museum Basoeki Abdullah pada tgl 12 April 2018. Bertempat di Museum Basoeki Abdullah, Jl Keuangan Raya 19 Cilandak, Jakarta Selatan. Selain Wiendu Nuryanti pembicara lain adalah Yuke Ardhiati, akademisi yang juga pengajar di Universitas Pancasila, Arief Djoko Budiono. Pemerhati Cagar Budaya dan Permuseuman, dengan moderator Kartum Setiawan. Selaku pembicara kunci adalah Harry Widianto, Direktur pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.

“Ruang adaptasi itulah yang membutuhkan continue and change untuk mengembangkan bangunan sebagi cagar budaya khususnya museum”,ungkap Wiendu Nuryanti.

Selain itu bangunan untuk dijadikan cagar budaya dibutuhkan kajian akademik. Berbagai pemetaan selain nilai juga keperluan pengembangan lain dibutuhkan untuk mewujudkan bangunan cagar budaya sesuai kebutuhan dan nilai arsitekturalnya.

“Oleh sebab itu saya mengajukan platform Renovasi dan Registrasi Bangunan Cabar Budaya, sebagai cara untuk membangun cagar budaya berkelanjutan”,ujar Yuke Ardhiati pada saat diskusi berlangsung.

Kebutuhan harmonisasi cagar budaya sangat dibutuhkan untuk menjadikan nilai budaya serta tata nilai saling bersinggungan. Serta sesuai dengan yang diharapkan oleh undang-undang untuk keperluan pengembangan budaya.(fag)

Please follow and like us:
17

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *