Headline News

TAJI Kecam Kekerasan Aparat Terhadap Jurnalis di Bandung

BANDUNG, REQNews- Tim Advokasi Jurnalis Independen (TAJI) angkat bicara terkait kekerasan aparat terhadap jurnalis yang kembali terjadi. Kali ini menimpa salah seorang wartawan kampus LPM Suaka UIN Bandung, Muhammad Iqbal.

Dalam pres rilisnya, TAJI menilai aparat menghalangi jurnalis saat meliput aksi penolakan Rumah Deret di Kantor Walikota Bandung, Jalan Wastukencana Kota Bandung, Kamis siang (12/4/2018).

TAJI mengecam tindak kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap massa aksi. Menurut TAJI, tindakan polisi tersebut jelas telah melanggar Undang-undang Pers Nomor 40 Nomor Pasal 8, yang menyebutkan wartawan mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan profesinya.

Taji menjelaskan, dalam UU Pers Pasal 18 menyebutkan, pihak yang menghalang-halangi tugas seorang jurnalis masuk dalam pelanggaran hukum pidana.

“Itu bentuk pelanggaran hukum pidana, sebagaimana tertuang dalam Pasal 18 UU Pers, di mana setiap orang yang menghalangi kebebasan pers diancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp500 juta,” ujar juru bicara TAJI, Ari Syahril Ramadhan.

Kejadian itu terjadi saat Iqbal sedang meliput aksi demontrasi penggusuran tanah Taman Sari di Balai Kota Bandung, Kamis (12/4/2018).  Sekitar pukul 13.25, massa aksi terlibat adu pukul dengan aparat yang menjaga.

Massa kemudian merapatkan barisan. Pukul 13.33, Dimas salah seorang massa aksi diseret oleh aparat. Melihat rekannya dipukuli, massa aksi yang lain, mencoba melindungi kedua rekannya.

Iqbal yang tengah meliput, melihat aksi kekerasan tersebut. Saat akan mengabadikan tindak kekerasan, Iqbal ditahan dan didorong oleh salah satu aparat.

Iqbalpun diusir untuk keluar oleh salah satu aparat. Meski mendapat perlakuan buruk, Iqbal tetap bertahan sambil menjelaskan jika Iqbal sebagai pers.

“Saya sudah bilang dari pers, tapi tidak digubris dan diusir,” ucap Iqbal.

Setelah kartu pers ditunjukkan, Iqbal malah ditarik ke dekat mobil Dalmas. Dan diinterogasi oleh beberapa polisi dan memaksa mengambil kamera milik Iqbal. Iqbal menolak untuk memberikan kamera dan mengaku jika gambar yang diambilnya merupakan hak pers untuk mengetahui apa yang terjadi.

Polisi menganggap Iqbal tak kooperatif. Ia lalu dimasukan ke dalam mobil dalmas. Iqbal juga sempat meminta kartu Pers yang ditahan oleh Polisi yang menangkap Iqbal, tetapi Polisi tersebut menolak.

Namun karena terus ditekan, foto yang Iqbal ambil terpaksa dihapus. Saat foto dihapus pun, polisi terus memperhatikan foto-foto yang ada di kamera. (Ran)

Please follow and like us:
21

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *