HAM Headline Hukum News

BUNG SUDIRO, PAHLAWAN YANG TELAH NGUWONGKE UWONG

Ia memimpin PUK SPKEP SPSI PTFI (Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia PT Freeport Indonesia) yang telah berhasil mengangkat derajat dan martabat para pekerja PTFI. Ia dianggap pahlawan yang nguwongke uwong. Seperti apa kisah kepahlawanannya?

———————-

Namanya tidak panjang; Sudiro! Rekan-rekan pekerja lazim memanggilnya “Bung Sudiro!” Raga si Bung tinggi semampai, rambut lurus dan wajahnya cukup tampan. Ia lahir di Makassar pada 23 Maret 1968 dari pasangan Dijar dan Siti Aminah. Dijar, marinir angkatan laut, pangkat terakhir, sersan mayor.  Orang tua Sudiro asli Jawa Timur, ayahnya Kediri, sedang ibunya Surabaya. Beberapa kali Dijar pindah tugas hingga akhirnya menetap di Makassar.

Setelah menamatkan STM Pembangunan di Makassar, Sudiro sempat bekerja di PT Bumi Karsa milik keluarga Jusuf Kalla. Tahun 1992, Sudiro mengantar rekannya yang melamar ke PTFI melalui agen/kontraktor tenaga kerja, PT Inamco Varia Jasa. Merasa tertarik, belakangan, Sudiro ikut memasukkan lamaran. Malah Sudiro yang dipanggil.

 

Pada mulanya menjadi tenaga kontrak bagian maintenance (pemeliharaan), namun pada 1998, Sudiro ditransfer menjadi pegawai tetap PTFI. Di Tembagapura, Sudiro kembali ditempatkan di bagian pemeliharaan dump truck (truk-truk raksasa).

Sempat diposisikan sebagai staf, namun karena terlalu baik, peduli hingga vokal membela teman, dalam kapasitasnya sebagai komisaris (perwakilan organisasi atau wakil karyawan), maka Sudiro diturunkan lagi menjadi pekerja biasa.

Pada 2008, Sudiro masuk kepengurusan PUK SPKEP SPSI PTFI bidang kasus. Selanjutnya terpilih menjadi pimpinan PUK SPKEP SPSI PTFI pada 2010 dengan suara bulat. Pada 2011, ada Perundingan Kerja Bersama (PKB) antara  serikat pekerja dengan manajemen dan pihak tekait lainnya. Kala itu pihak Sudiro lantang menyuarakan perbaikan sekaligus peningkatan gaji hingga 80%, berikut kenaikkan tunjangan dan pemenuhan sejumlah fasilitas. Terlalu lantang bersuara, Sudiro dan sejumlah pengurus PUK SPKEP akhirnya di-PHK sepihak.

Para pekerja marah. Pada Juli 2011, ribuan pekerja melakukan aksi jalan kaki dari Tembagapura menuju ke kota Timika. Setelah itu mereka mogok selama sembilan hari. Selain menuntut Sudiro dkk yang dipecat agar kembali bekerja, para pekerja menuntut kenaikan upah termasuk tunjangan-tunjangan lainnya seperti yang diusulkan Sudiro dalam PKB 2011.

Manajemen akhirnya mengaktifkan status karyawan Bung Sudiro dkk yang sempat mereka hilangkan dari database perusahaan. Perundingan disetujui untuk dilakukan Agustus 2011 namun perundingan deadlock, hingga akhirnya pada september 2011 Sudiro dkk memberikan tiga opsi kepada para pekerja. Salah satu opsi adalah melakukan mogok dengan segala risiko atas dasar UU 13 tahun 2003. Ternyata, opsi mogok dipilih 7.600 pekerja. Selanjutnya Sudiro dkk merilis surat mogok kepada manajemen ditembus ke sejumlah pihak terkait. Mogok pun dimulai 15 september 2011.

Pada akhir Desember 2011, manajemen PTFI  yang dipimpin Armando Mahler memutuskan untuk menaikkan gaji dan tunjangan para pekerja dan seluruh karyawan hingga 40%. Meskipun manajemen hanya mengabulkan setengah dari tuntutan kenaikkan hingga 80%, toh semua pekerja gembira. Kenaikkan hingga 40% menjadi rekor sejarah tersendiri bagi Freeport Indonesia. Lazimnya, kenaikkan tidak lebih dari 5%.

“Bapak sebelumnya hanya dapat gaji basic sekitar Rp 5 juta. Setelah PKB, naik sampai 8 jutaan. Tahun 2012 naik 20% dan tahun 2013 naik lagi 20% sampai 40%. Kalau ditotal secara keseluruhan, Bapak bisa dapat sampai Rp 15 juta sebulan. Pada waktu PKB berikutnya naik lagi dan Bapak bisa dapat sampai Rp 23 juta per bulan. Tunjangan dan fasilitas juga naik semua,” kisah Ayu Widuri, istri Bung Sudiro kepada REQuisitoire di Timika pada awal Januari 2018.

Mau tidak mau REQuisitoire mengoreksi keterangan dari Ayu di rumahnya di Jalan Pendidikan, lantaran Sudiro sedang berada dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas) IIB, Timika, Kabupaten Mimika. Memang, sebelumnya REQuisitoire telah mengunjungi Sudiro di Lapas namun sayangnya tidak leluasa melakukan wawancara karena waktu yang mepet tak mendapatkan izin. Wawancara juga dilanjutkan melalui telepon dari Jakarta ke Timika.

Kehidupan para pekerja berubah 180 derajat. Dengan gaji yang cukup tinggi, para buruh bisa menabung, bisa kredit rumah di kota Timika dan seterusnya. Sejumlah pekerja asal Papua yang mulanya sering berteriak menuntut merdeka, menjadi adem.

“Sudahlah…, tidak usah lagi tuntut kemerdekaan. Lebih bagus kita satu Indonesia. Kalian kan intinya mau sejahtera, sebagai pekerja Freeport, mari kita perjuangkan untuk lebih sejahtera,” kisah Ayu menirukan kata-kata suaminya Sudiro.

Bagi manajemen PTFI, si Bung adalah musuh besar. Beberapa kali ada upaya untuk singkirkan Sudiro. Menurut cerita, sebagaimana diceritakan  Sudiro kepada Ayu, ada pihak terkait menggoda si Bung dengan uang miliaran, dengan catatan, tidak vokal dan menuruti sejumlah permintaan.

Sampai dua kali Bung ditawarkan. Tawaran pertama hingga Rp 16 miliar saat Sudiro baru menjabat di PUK SPKEP. Beberapa tahun setelahnya, Sudiro ditawarkan lagi Rp 12 miliar dan sejumlah tawaran lainnya yang menggiurkan.

Belakangan, si Bung ditawarkan kerja di luar negeri, menjadi supervisor untuk Asia dengan gaji hingga Rp 500 juta per bulan berikut fasilitas lainnya.

Si Bung tak tergoda. Ayu ikut mempengaruhi Bung agar menolak tawaran. Pihak yang menawarkan kewalahan. “Saya selalu ingatkan Bapak, jangan terima. Kalau Bapak terima saya pergi dari Bapak. Saya akui, Bapak sendiri juga punya pendirian keras,” demikian Ayu bertutur.

Ketika ditawarkan kerja di Amerika, si Bung sempat konsultasi dengan Ibu Manuputty. Ini  seorang pendeta yang dekat dengan Sudiro dan keluarganya yang telah dianggap seperti ‘mama’ dan ‘oma’ keluarga Sudiro. Banyak hal yang dikeluhkan atau didiskusikan antara Sudiro dan Pendeta Manuputty. Rohaniwan Kristen ini tidak pernah melarang Sudiro atau tidak pernah memberikan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak!’ Sebaliknya Ibu Manuputty selalu bilang “Segala sesuatu harus dipikirkan dengan bijaksana. Seorang pemimpin harus utamakan kepentingan anggota!”

Cita-cita Sudiro menurut Ayu adalah nguwongke uwong (Jawa) yang artinya memanusiakan ‘manusia’ para pekerja Freeport. Sudiro ingin semua pekerja PTFI, terutama pekerja asal Papua, hidup lebih sejahtera dari waktu ke waktu. Ia juga ingin seluruh warga Papua sejahtera, Papua menjadi maju. Menurut Sudiro, jika pekerja PTFI asal Papua dan masyarakat asli Papua sejahtera dan maju, pasti tidak ada yang minta merdeka.

Nguwongke uwong yang juga diinginkan Sudiro adalah bagaimana semua pekerja di semua lini bekerja tanpa beban, tanpa ada tekanan yang berlebihan yang seakan bekerja di zaman kolonial. Manajemen atau perusahaan tidak boleh menghambat dan menghalang – halangi aktivitas organisasi pekerja.

DIKRIMINALISASI?

Tahun 2016, mantan Ketua PC SPKEP SPSI Mimika, Virgo Solosa, melaporkan Sudiro ke Polres Timika. Tak main-main, Sudiro dituduh menggelapkan iuran anggota organisasi hingga Rp 3,5 miliar. Tentu saja Sudiro, keluarganya, termasuk para pekerja, kaget bukan kepalang.

“Bagaimana ceritanya gelapkan dana hingga 3 miliar lebih. Saya tidak pernah lihat uang segitu banyak. Bertahun-tahun tinggal di rumah kontrakan dan belakangan dikasi hadiah rumah oleh teman-teman pekerja. Aneh tuduhannya. Pihak yang menuduh termasuk penyidik dan jaksa yang menuntut tidak memiliki bukti. Banyak saksi yang dihadirkan mengaku tidak tahu,” beber Ayu.

Di tengah proses penyidikan di Polres Mimika, AKBP Yustanto Mujiharso, Kapolres Mimika, menawarkan agar kasus diselesaikan secara musyawarah di tingkat organisasi. Pihak Sudiro setuju termasuk pihak PC dan PP SPKEP SPSI di Jakarta. Beberapa kali Sudiro dan pihak terkait datang ke kantor PP SPKEP SPSI di Jakarta.  Persoalan selesai dan tidak ditemukan hal-ihwal yang dituduhkan.

Namun, tiba-tiba Yustanto diganti. Kapolres baru AKBP Victor D Mackbon membuka kembali kasus yang dilaporkan Virgo Solosa. Sudiro kembali ke Polres menjalani serangkaian pemeriksaan. Pada 8 Desember 2016 pemeriksaan Sudiro dipindahkan ke Polda Papua di Jayapura dan konon atas perintah Kapolda Paulus Waterpauw. Alasannya demi keamanan!

Langsung setelah diperiksa, si Bung ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Polda Papua. Sang istri dan kuasa hukum didukung ribuan pekerja, mengajukan surat permohonan penangguhan penahanan, namun tidak dikabulkan. Surat permohonan penangguhan penahanan kedua kembali diajukan dan kembali tidak dikabulkan.

Ketua PC SPKEP SPSI Kabupaten Mimika, Aser Gobay, sempat membuat surat pencabutan Laporan Polisi namun surat itu pun tidak digubris oleh Polda Papua dan bertekad menuntaskannya untuk kemudian melimpahkan berkas penyidikan kepada pihak Kejaksaan Negeri Timika.

Presiden KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) Andi Gani Nenawea langsung turun tangan dan meminta untuk mengajukan kembali Surat Permohonan Penangguhan Penahanan Ketiga. Andi Gani langsung berkomunikasi dengan petinggi POLRI. Entah ada pengaruhnya atau tidak, yang pasti, pada Januari 2017, Sudiro diperintahkan keluar dari rumah tahanan Polda Papua dan berganti status menjadi tahanan kota (Timika). Serangkaian persidangan dilakukan di PN Timika hingga akhirnya si Bung dituntut 2 tahun 6 bulan dan divonis hakim 1 tahun penjara.

—————————————————————————————

CINTA BERSEMI DI KOMPLEKS DAN DAPAT SURPRISE RUMAH

Sudiro dan Ayu Widuri bertemu di Makassar. Mereka sama-sama tinggal di sebuah kompleks/perumahan milik angkatan laut. Ayah Sudiro dan ayah Ayu sama-sama prajurit angkatan laut. Ayah Sudiro marinir dan ayah Ayu bertugas di kapal perang. Sudiro dan Ayu mulai berpacaran ketika Sudiro kelas II STM dan Ayu kelas II SMP.  Cinta keduanya tetap bersemi kala Ayu tinggal dan sekolah di Surabaya sedangkan Sudiro di Makassar hingga beada di Timika dan Tembagapura.

Setelah 11 tahun berpacaran, Sudiro dan Ayu menikah di Surabaya pada 20 September 1998. Dua minggu setelah menikah, Ayu diboyong ke Timika dan tinggal di rumah kontrakan. Sudiro dan Ayu dikaruniai tiga anak, dua putri dan seorang lagi putra. Putri sulung kuliah di Jawa, putra nomor dua SMP di Timika dan putri bungsu 4 tahun.

Sudiro di mata Ayu adalah seorang yang tegas dan pemberani. “Karena latar belakang anak tentara, Bapak itu sosok yang tegas dan berani. Bapak termasuk idealis dan pegang prinsip. Bapak juga solider sama teman-temannya. Dia perhatian banget sama teman-teman yang butuh bantuan. Selama menjadi pimpinan di PUK SPKEP SPSI Freeport, Bapak selalu bantu berjuang teman-teman yang kena masalah,” beber Ayu.

Keluarga Sudiro hidup sederhana dan hidup hanya dari gaji berikut tunjangan yang didapatkan dari PT Freeport Indonesia. Rumah yang mereka kini tinggal di Timika merupakan hadiah dari para pekerja. Begini ceritanya;

Tahun 2013, keluarga Sudiro ngontrak di rumah di Jalan Pendidikan, Kota Timika, milik Parlindungan Sibarani yang juga karyawan Freeport. Ketika masa kontrak selesai, Sudiro dan Ayu bingung, harga sewa naik jika kembali ngontrak di rumah tersebut. Opsi kedua, mereka diminta pemilik rumah untuk membeli rumahnya. “Tetapi kami tiak punya uang. Waktu itu kami pasrah saja,” terang Ayu.

Begitu para pekerja tahu kesulitan Sudiro-Ayu, diam-diam mereka melakukan kesepakatan membeli rumah tersebut dan dihadiahkan kepada Sudiro. Ratusan bahkan ribuan pekerja gotong royong mengumpulkan dana dalam waktu tiga bulan hingga terbelilah rumah seharga Rp 1,8 miliar.

Setelah resmi dibeli, para pekerja datang kepada Sudiro. Sontak, keluarga Sudiro kaget. Pada mulanya Sudiro tidak berkenan. Begitu juga dengan Ayu. “Tidak enak dan ini beban. Tidak enak juga sama pengurus lainnya. Bapak dan saya tidak mau sebenarnya yang begitu itu,” ungkap Ayu dengan rasa haru.

Para pekerja terus merayu. Mereka mengatakan  bahwa inisiatif pembelian rumah bukan dari pengurus tetapi dari para pekerja. Tidak hanya Sudiro yang diberikan hadiah, pengurus lain yang dianggap telah memiliki jasa memperjuangkan kesejahteraan pekerja, akan diberikan hadiah, walau dalam bentuk yang lain.

Seorang pekerja sempat mengatakan kepada Sudiro, “Bung, lebih baik kami yang berikan Bung rumah daripada diberi manajemen!” Akhirnya keluarga Sudiro menerimanya dengan iklas dan rasa haru yang luar biasa.

Rumah yang berdiri atas tanah seluas 25 X 30 meter tersebut telah menjadi markas besar (mabes) para pekerja Freeport. Rumah itu terbuka bagi seluruh pekerja. Di samping rumah utama ada guest house yang dapat digunakan para pekerja untuk nginap dan kegiatan lainnya.

“Mereka bilang begini, pengurus serikat dan terutama Pak Sudiro adalah pahlawan yang telah berjuang mensejahterakan pekerja Freeport. Jadi pantas kami berterima kasih kepada Pak Sudiro. Hadiah rumah yang diberikan katanya tidak seberapa dengan jasa Pak Sudiro dan kawan pejuang lainnya,” demikian Ayu bicara menirukan kalimat seorang pekerja.

Setelah mendapatkan hadiah istimewa, si Bung kian semangat berjuang bagi para pekerja untuk nguwonke uwong. Walau raganya kini dalam penjara, toh semangatnya tetap membara.

“Kita tidak perlu dendam dan siapa pun yang telah jahat sama Bapak dan pekerja lainnya yang tidak bersalah, kita biarkan sebab Allah SWT itu Mahakuasa!” pungkas Ayu.(*)

 

 

 

One thought on “BUNG SUDIRO, PAHLAWAN YANG TELAH NGUWONGKE UWONG”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *