Headline Hukum News

KARENA YAKIN DIBANTU “KAKA BESAR” HARIS AZHAR

Pada hari kedua, Rabu (17/1/18), kami mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (LP/Lapas) Kelas II B Timika. Ternyata letak lapas ini jauh di luar kota Timika dan harus menempuh perjalanan lebih dari 30 menit.  Letak lapas ini di Jalan Iwaka SP V, lokasinya sangat sepi dan jauh dari perkampungan atau perumahan.

M Pardede, pekerja PTFI yang kena furlough dan ikut mendampingi tim kuasa hukum selama di Timika, menjelaskan, lapas Timika ini selalu ramai pada hari Rabu dan Jumat, karena hanya pada dua hari itu saja para pengunjung boleh berkunjung.

Kami tiba di Lapas sekira pukul 10.00 dan masuk dari pintu samping. Ternyata di dalam sudah ramai. Para istri yang semalam telah bertemu Haris dan Nurkholis di Ossa de Villa, sudah tiba lebih awal di tempat itu. Ikut serta  sejumlah anak dan kerabat lainnya. Mereka berkumpul di selasar belakang gedung utama yang cukup luas. Mereka kangen-kangenan dan tampak akrab. Mata-mata mereka berkaca-kaca.

Meski hari itu ramai, namun Lapas di atas areal yang cukup luas itu ternyata sepi. Hari itu tidak tampak aktivitas kantor. Sipir yang jaga juga tidak banyak. Pegawai juga tidak tampak. Yang cukup aktif hanya kantin di gedung utama yang cukup aktif melayani pembeli. Lapas itu sendiri tidak dihuni oleh banyak warga binaan dan tidak mencapai 100 orang.

Kedatangan Haris dan Nurkholis disambut gembira oleh Sudiro, warga binaan Lapas Kelas IIB Timika yang divonis setahun atas tuduhan penyalahgunaan wewenang dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan (PUK SPKEP SPSI PTFI). Di Lapas itu Sudiro dan istrinya menyambut Haris dan Nurkholis dengan gembira. Cukup lama mereka berbincang hingga akhirnya semua berkumpul dan duduk bersila di lantai, memberikan testimoni lalu berdiskusi.

Tujuh pekerja lainnya yang ada di Lapas Timika adalah ; DP, SY, GS, JY, LB, NK, Lkn, dan AK. Seorang tahanan lainnya, PW, ditahan di sebuah Polsek di kota Timika dan karena waktu yang tidak memungkinkan, PW tak sempat dijumpai Haris dan Nurkholis. Atas permintaan khusus dan demi keamanan, maka nama-nama ini ditulis dengan inisial. Delapan orang ini ditahan dan dibui, antara lain karena terkait demonstrasi 19 Agustus 2017 di kota Timika, demo menentang kebijakan furlough dan kebijakan lainnya dari manajemen PTFI yang dianggap merugikan pihak pekerja.

Sejumlah 8 orang yang ditahan atau dibui ini antara lain dituduh melakukan perusakan fasilitas umum dan fasilitas khusus. Ada pula yang dituduh membawa sajam (senjata tajam) dan tuduhan lainnya. Status mereka pada kesempatan itu adalah tahanan  Kejaksaan Negeri Timika dan sedang dalam posisi menunggu persidangan. Dua dari antara mereka telah bersidang dan lainnya masih menunggu persidangan.

Satu per satu para tahanan menceritakan apa yang dialami. Cerita mereka cukup runtut dengan nada-nada sendu.  Kata seorang tersangka, “Setelah peristiwa 19 Agustus, malam harinya kami ditangkap polisi, ada yang ditangkap malam itu juga, ditangkap pagi dini hari di tempat yang berbeda-beda, ada juga yang ditangkap hari berikutnya. Kami diperlakukan seperti teroris, dipukul, ditendang, bahkan ditakut-takuti dengan ular.”

Seorang tersangka lainnya bercerita, “Kami dipaksa menyebut nama Pak Sudiro dan Pak Aser Gobai (Ketua Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Kimia Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia/PC SP-KEP SPSI) Kabupaten Mimika), sebagai dalang demonstrasi.”

Seorang tahanan lainnya melanjutkan, “Pak Sudiro dan Pak Aser tidak pernah menyuruh kami demo. Kami bilang ini spontanitas. Kami hanya melakukan demonstrasi, unjuk rasa biasa, menyuarakan hak kami para pekerja terhadap manajemen yang telah berlaku tidak adil terhadap kami. Kami hanya melakukan aksi solidaritas terhadap teman-teman kami yang dirumahkan dan menyuarakan pembebasan Pak Sudiro yang dihukum dengan tuduhan yang tidak jelas!”

Haris dan Nurkholis terkejut dengan pengakuan cerita para tahanan. Keduanya mencatat dugaan kuat ada pelanggaran hukum acara yang dilakukan para penyidik. Dua pengacara spesialis hak asasi manusia ini menegaskan bahwa sebenarnya penyidik tidak punya bukti yang kuat membawa delapan orang tahanan tersebut ke meja hijau.

Dua jam di Lapas, Haris, Nurkholis dan kawan-kawan pun pulang. Para tahanan melepaspergikan tamunya dengan sedih. Mereka menaruh harapan pada Haris dan Nurkholis.

“Pace yakin kah dibantu sama Bang Haris dan kawan-kawan dari Lokataru?” tanya REQuisitoire pada AK.

“Kami sering melihat ‘Kaka Besar’ Haris Azhar di TV bela korban tidak bersalah. Orangnya berani melawan kekuasaan, karena itu kami percaya to sama Kaka Besar?!” demikian AK memberikan alasan.

Ya, semoga ‘kaka besar’ Haris Azhar yang memang badannya tinggi-besar dapat membantu AK dan ribuan kawan-kawan AK. Harapan yang sama juga ditujukan kepada rekan-rekan kaka besar Haris Azhar dari Lokataru seperti Nurkholis Hidayat dan lainnya.(*/BN)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Please follow and like us:
18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *