Ilustrasi kecelakaan Sukabumi
Headline Hukum News

Ungkap Penyebab Kecelakaan Sukabumi, Ini Teknologi yang Dipakai Korlantas Polri

SUKABUMI, REQNews – Korps Lalu Lintas Polri mulai menganalisa kasus kecelakaan maut di Kampung Bantar Selang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang menyebabkan 21 orang tewas akibat bus pariwisata terjun ke jurang.

Menurut Kepala Korlantas Polri Irjen (Pol) Refdi Andri, olah tempat kejadian perkara (TKP) ini untuk kelengkapan analisa faktor penyebab kecelakaan. Nantinya, kata dia, hasilnya akan disimpulkan melalui video animasi kronologis kecelakaan yang menyebabkan 21 orang tewas dan belasan luka-luka.

“Tim sudah bekerja baik Polres Sukabumi, Polda Jabar dan Korlantas Polri,” kata Refdi di lokasi kecelakaan maut di Desa/Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Minggu 9 September 2018.

Adapun tugas tim dibagi menjadi dua yakni tim Road Accident Rescue yang bertugas mengevakuasi korban kecelakaan bis maut tersebut. Dan Tim Traffic Accident Analysis (TAA) bertugas melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut.

Olah TKP dilakukan dengan metode khusus untuk menganalisa kebenaran dari suatu kejadian laka lantas. Dengan metode kinematika dan menganalisa suatu kejadian laka lantas untuk mendapatkan kebenaran dari suatu kejadian laka lantas.

Metode kinematika sendiri merupakan analisis rekonstruksi dari pergerakan yang terjadi pada saat proses deformasi batuan yang terjadi di semua skala Animasi itu bisa mendekati keakuratan penyebab kejadian kecelakaan ini. Namun untuk saat ini pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab utama kejadian ini.

Selain itu, anggotanya pun sudah mulai memeriksa perusahaan otomotif (PO) pemilik bus yang membawa puluhan karyawan PT Catur Putra Grup untuk berwisata ke objek wisata arung jeram di Kecamatan Cikidang.

“PO bus itu pun harus tanggung jawab karena wajib menjamin keamanan, keselamatan dan kenyamanan penumpang. Jika ada indikasi kesalahan maka perusahaan itu akan ditindak mulai dari peringatan, pembekuan hingga pencabutan izin,” tambahnya.

Refdi mengatakan untuk hasil analisa tersebut bisa diketahui hasilnya dua sampai tiga hari kedepan. Jika nanti hasilnya ada kelalaian manusia atau human error maka sopir bus tersebut bisa dipidanakan seperti kurungan penjara 12 tahun atau denda Rp25 juta.

Sebelumnya, bus wisata bernopol B 7025 SGA yang membawa 35 penumpang itu melaju dari arah Cikidang menuju Palabuhan Ratu. Pengemudi bus yang kurang menguasai medan jalan diduga kehilangan kendali saat melalui jalan berkelok dan terperosok ke dasar jurang dengan ketinggian 31 meter. (CHR)

Please follow and like us:
24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *