Headline News

Para Aktivis Perempuan yang Terbunuh dan Selalu Dikenang

JAKARTA, REQNews – Demi memperjuangkan kebenaran para perempuan ini mati terbunuh. Kisah pilu pembunuhan mereka yang tak terungkap sepenuhnya, selalu dikenang hingga kini.

Inilah beberapa kisah memilukan dari para perempuan yang berani menyuarakan kebenaran untuk kepentingan orang banyak.

Juanita Nielsen

Merupakan seorang aktivis perempuan yang diculik dan dibunuh empat dekade lalu. Dia diculik dan dibunuh pada 4 Juli 1975 karena kampanye anti pembangunan dan antikorupsi.

Pada saaat terbunuh usianya 38 tahun dan jenazahnya serta pembunuhnya tidak pernah ditemukan.

Pada saat itu sebuah perusahaan pengembang properti, Frank Theeman, merencanakan sebuah kompleks apartemen besar yang bernilai tinggi. Pembangunan tersebut membuat masyarakat yang tinggal di wilayah Victoria St dan Woolloomooloo di Sydney, Australia tergusur padahal daerah tersebut memiliki banyak situs budaya.

Namun, Frank Theeman, berhasil membuat otoritas setempat menempatkan larangan hijau di daerah tersebut pada tahun 1972 sementara penduduk setempat termasuk Nielsen menolak meninggalkan rumah mereka. Dengan berpegang pada putusan otoritas setempat, Theeman berusaha mengusir masyarakat wilayah tersebut.

Melalui tulisannya di media, Juanita Nielsen menulis dengan berapi-api melawan pembongkaran dan pembangunan wilayah Victoria St dan Woolloomooloo.

Kegiatan yang dilakukan Juanita Nielsen meningkatkan kesadaran publik tentang isu-isu konservasi lingkungan dan warisan di Woolloomooloo.

Ketika larangan hijau jatuh pada 1974 karena perubahan dalam kepemimpinan BLF, Nielsen dan penduduk adalah penghalang terakhir bagi perkembangan Theeman.

Pada 4 Juli Nielsen diundang oleh Edward Trigg ke Carousel Club di Kings Cross dengan dalih mendiskusikan klub memasang iklan di korannya. Itulah terakhir kalinya ia terlihat. Tas dan barang-barang pribadinya ditemukan di tepi jalan raya Western Sydney seminggu kemudian.

Pada tahun 1977 Trigg dan dua karyawan Carousel Club ditangkap dan didakwa bersekongkol untuk menculik Nielsen.Trigg dijatuhi hukuman tiga tahun penjara sementara satu karyawan dipenjara selama dua tahun dan yang lainnya dibebaskan.

Berkat tulisannya yang blak-blakan dan kampanyenya yang berani, membuat banyak orang sadar perlunya melindungi warisan budaya. Kini masyarakat di Australia bahkan dunia, masih bisa menikmati bangunan-bangunan yang terdaftar sebagai warisan tersebut.

Rumah Nielsen di Victoria St, Potts Point dimasukan dalam daftar perlindungan warisan negara pada tahun 2012.

Dian Fossey

Seorang ahli primata dan konservasionis Amerika yang dikenal karena melakukan studi ekstensif terhadap kelompok gorila gunung dari tahun 1966 sampai kematiannya. Ia mempelajarinya setiap hari di gunung hutan Rwanda.

Kematian Dian Fossey pada 1980-an mengejutkan dunia.Ia dibunuh secara brutal di kabinnya di sebuah kamp terpencil di Rwanda pada bulan Desember 1985. Kepalanya hancur dan terdapat tanda parang di wajahnya. Kabinnya digeledah, tetapi tidak ada uang atau senjata yang dicuri.

Banyak orang memperkirakan kematian Dian Fossey terkait dengan upaya pelestariannya. Tekadnya untuk melindungi gorila yang dicintainya dari para pemburu liar yang kejam telah menyebabkan kematiannya.

Maraknya pembunuhan gorila di wilayah hutan Rwanda, membuat Dian Fossey mengancam akan menunjukkan bukti kepada dunia tentang perburuan gelap dan penyelundupan emas di taman nasional Rwanda.

Teman-temannya percaya bahwa kematiannya melibatkan beberapa pejabat pemerintah untuk mengatur pembunuhannya. Terkait dengan penyelundupan emas di Afrika.

Sepucuk surat tentang penyelundupan emas yang dikirimnya ke Redmond berminggu-minggu sebelum kematiannya tidak pernah sampai, tetapi salinannya ditemukan di arsipnya.

Atas kematiannya, polisi mendakwa asistennya Wayne McGuire dengan pembunuhan untuk mencuri penelitiannya dibantu oleh pelacak Rwelekana.

McGuire menyangkal tuduhan tersebut, ia mengatakan Dian percaya dia akan dibunuh. Dia berkata jika Anda pernah mendengar suara tembakan di malam hari, jangan khawatir tentang saya, keluar secepat yang kamu bisa, itulah pesan Dian Fossey kepada McGuire.

“Aku tidak membunuh Dian. Aku adalah temannya dan kehilangan segalanya dari kematiannya,” ujar McGuire.

Marielle Franco

Seorang politikus, feminis, dan aktivis hak asasi manusia di Brasil. Ia terbunuh pada 14 Maret 2018 setelah menyampaikan pidatonya.

Ia dibunuh ketika berada di mobilnya bersama dengan sopirnya. Ia ditembak beberapa kali. Menurut saksi mata ada dua orang yang membunuhnya menggunakan kendaraan lain, ia dibunuh di Rio de Janeiro.

Marielle Franco telah menjadi kritikus yang terang-terangan terhadap kebrutalan polisi dan pembunuhan di luar hukum, serta intervensi federal pada Februari 2018 oleh presiden Brazil Michel Temer di negara bagian Rio de Janeiro yang mengakibatkan penempatan tentara dalam operasi polisi.

Pemerintah federal memutuskan bahwa pasukan Brasil akan mengambil alih semua operasi keamanan sampai akhir tahun di Rio, di mana pembunuhan telah meningkat tajam. Marielle Franco, bagian dari komisi untuk mengawasi intervensi militer, mengecam keras langkah itu dan mengatakan itu bisa memperburuk kekerasan polisi terhadap warga.

Menurut Renata Neder, koordinator penelitian dan kebijakan untuk Amnesty International Brazi, dalam kasus Marielle Franco ada indikasi kuat dari keterlibatan agen negara dan keamanan.

Media Brasil telah melaporkan bahwa amunisi yang digunakan dalam pembunuhan Renata Franco adalah kaliber terbatas yang diambil dari pasokan polisi federal. Dan laporan media mengatakan, bahwa kamera keamanan di tempat pembunuhan itu terputus pada malam kejahatan.

Marsinah

Di Indonesia ada Marsinah, ia adalah seorang aktivis dan buruh pabrik, PT Catur Putera Surya (CPS), pabrik arloji di Siring, Porong, Jawa Timur,  yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Ia dibunuh di usia yang masih teramat muda, 24 tahun.

Buruh PT CPS digaji Rp1.700 per bulan. Padahal berdasarkan KepMen 50/1992, diatur bahwa UMR Jawa Timur ialah Rp2.250. Pemprov Surabaya meneruskan aturan itu dalam bentuk Surat Edaran Gubernur KDH Tingkat I, Jawa Timur, 50/1992, isinya meminta agar para pengusaha menaikkan gaji buruh 20 persen.

Banyak pengusaha menolak aturan tersebut, termasuk PT CPS. Manajemen PT CPS hanya mau mengakomodasi kenaikan upah dalam tunjangan, bukan upah pokok. Permasalahannya, jika buruh tak masuk kerja karena alasan sakit atau melahirkan, tunjangannya akan dipotong.

Negosiasi antara buruh dengan perusahaan mengalami kebuntuan. Karena itu, buruh PT CPS menggelar mogok kerja pada 3 Mei 1993. Ada 150 dari 200 buruh perusahaan itu yang mogok kerja. Marsinah adalah sosok  yang memimpin protes para buruh.

Pada 8 Mei 1993, Marsinah ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah di Desa Jagong, Nganjuk. Jenazahnya divisum Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk pimpinan Dr. Jekti Wibowo.

Hasil visum menunjukkan adanya luka robek tak teratur sepanjang 3 cm dalam tubuh Marsinah. Luka itu menjalar mulai dari dinding kiri lubang kemaluan (labium minora) sampai ke dalam rongga perut. Di dalam tubuhnya ditemukan serpihan tulang dan tulang panggul bagian depan hancur. Selain itu, selaput dara Marsinah robek. Kandung kencing dan usus bagian bawahnya memar. Rongga perutnya mengalami pendarahan kurang lebih satu liter.

Setelah dimakamkan, tubuh Marsinah diotopsi kembali. Visum kedua dilakukan tim dokter dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Menurut hasil visum, tulang panggul bagian depan hancur. Tulang kemaluan kiri patah berkeping-keping. Tulang kemaluan kanan patah. Tulang usus kanan patah sampai terpisah. Tulang selangkangan kanan patah seluruhnya. Labia minora kiri robek dan ada serpihan tulang. Ada luka di bagian dalam alat kelamin sepanjang 3 sentimeter. Juga pendarahan di dalam rongga perut. (dnls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *