Dr Soepomo
Headline Hukum News

Soepomo, Sang Pengkritik Belanda dan Arsitek Hukum Indonesia

JAKARTA, REQNews – Lahir sebagai priyayi tak membuat Soepomo terlena dengan segala kelebihan dan akses yang diberikan rezim penjajah Belanda atas keluarganya. Sosok yang diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional tahun 1965 ini semasa aktifnya dikenal sebagai pengkritik pedas bagi Belanda, terutama untuk urusan hukum.

Prof Soepomo lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah pada 22 Januari 1903 dan wafat pada 12 September 1958. Semasa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Soepomo juga dikenal sebagai satu dari tiga arsitek dasar hukum Indonesia, UUD 1945, bersama Muhammad Yamin dan Soekarno.

Belanda sempat meradang dengan kritikan-kritikan tajam Soepomo, terutama tentang hukum agraria selama masa penjajahan. Kritikan itu ia tuangkan dalam desertasinya yang berjudul Agraricsh Stelsel in het Gewest Soerakarta(Resorganisasi Sistem Agraria di Wilayah Surakarta) saat meraih gelar Doktor.

Dalam desertasinya itu, Soepomo mengupas tuntas sistem agraria tradisional dan menganalisis hukum-hukum kolonial yang berkenaan dengan pertanahan secara tajam. Kritik dalam desertasinya menggunakan bahasa Belanda yang halus dan tidak langsung. Hebatnya, Soepomo mengkritik Belanda menggunakan argumen-argumen yang diagung-agungkan kolonial, ibarat senjata makan tuan.

Meraih pendidikan yang tinggi baginya bukanlah hal yang sulit, terutama karena status sebagai priyayi. Soepomo mengeyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), setingkat sekolah dasar, di Boyolali pada 1917. Ia lalu lanjut sekolah di Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) di Solo pada 1920.

Sosok yang kemudian menjadi Menteri Kehakiman pertama di Indonesia ini kemudian meneruskan pendidikan hukum di Bataviasche Rechtsshool dan lulus pada 1923. Kesempatan selanjutnya datang pada 1924 dan Soepomo terbang ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan di Leiden University pada 1924 dan lulus pada 1927.

Sumbangsihnya untuk bangsa Indonesia yang paling dikenal dan dicatat dalam sejarah adalah pengajuan Dasar Negara Indonesia Merdeka yang terdiri dari Persatuan, Kekeluargaan, Keseimbangan Lahir Batin, Musyawarah dan Keadilan Sosial. Ia pun pernah menjadi anggota BPUPKI dan PPKI sebelum ditunjuk sebagai ketua panitia kecil perancang UUD yang bertugas menyempurnakan naskah UUD dari rancangan sebelumnya, yakni Piagam Jakarta.

Ia juga pernah menjabat sebagai pegawai negeri setelah lulus dari MULO. Soepomo muda ditunjuk pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk diperbantukan pada Ketua Pengadilan Negeri Sragen, menurut catatan Soegito (1977) tentang biografi sang pahlawan nasional.

Dua hari setelah teks proklamasi dibacakan Soekarno sebagai tanda kemerdekaan bangsa Indonesia, tepatnya pada 19 Agustus 1945, Soepomo ditunjuk secara sah sebagai Menteri Kehakiman hingga 14 November 1945. Dia ditunjuk lagi sebagai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia pada 20 Desember 1949 hingga 6 September 1950.

Sebelum meninggal dunia pada 12 September 1958 di Jakarta akibat serangan jantung, Soepomo juga tercatat sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI) Ke-2 pada tahun 1951 hingga 1954. Jasadnya dimakamkan di pemakaman keluarga kampung Yosoroto, Solo. (RYN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *