Saturday, December 3rd, 2022

Ekonom Tepis Bayang-bayang Krismon 1997 Jelang Resesi Global

Sejumlah lembaga asing memperingatkan soal ancaman resesi global yang akan terjadi pada tahun depan. Bank Dunia (World Bank) memproyeksi sejumlah negara resesi pada 2023. Bahkan, ada kans Indonesia menjadi salah satu negara yang terancam resesi.

Namun, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, perekonomian Indonesia sebenarnya masih cukup sehat. Meski masih ada potensi risiko resesi ekonomi sebesar 3 persen. “Kita (Indonesia) relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risiko (potensi resesi) 3 persen,” ujar Ani, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers di Nusa Dua, Rabu (13/7) lalu.

Nah, sebelumnya, Indonesia pernah mengalami krisis moneter pada 1997 hingga 1998 dan 2008. Krisis pada 1997-1998 dipicu karena permasalahan keuangan negara-negara di Asia. Di Indonesia, rupiah ambruk. Nilai mata uang garuda melonjak tajam dari Rp2.600 menjadi Rp16 ribu per dolar AS. Padahal, sepanjang 1990-1996, nilai tukar rupiah selalu berada di Rp1.901-Rp2.383 per dolar AS.

Tidak jauh beda dengan krisis 1998, krisis ekonomi pada 2008 terjadi karena masalah keuangan global yang bermula di Amerika Serikat. Ani mengatakan risiko dari krisis keuangan 2008 silam lebih menyasar ke sektor keuangan dan korporasi.

“Kalau dulu kan melalui lembaga keuangan, korporasi jatuh, lalu pemutusan hubungan kerja (PHK) paling,” katanya. Lalu apakah krismon seperti pada 1997 dan 2008 bisa terulang kembali? Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengungkapkan situasi ekonomi saat ini tidak bisa disamakan dengan krismon 1997 maupun krisis keuangan 2008. Alasannya, kondisi saat ini lebih mirip dengan resesi yang terjadi pada 1970 silam.